Deskripsi
JAKARTA 1983.
Di balik gemerlap ibukota, di gang-gang gelap ibu kota, ribuan nyawa melayang tanpa pengadilan. Preman, pencopet, penjudi—mereka ditemukan tewas dengan satu lubang peluru di kepala. Media menyebutnya Petrus—Penembak Misterius. Pemerintah diam.
Namun yang lebih mengerikan dari mayat-mayat itu adalah siapa yang membersihkannya.
Bagi Raden Arya Wirawan, mantan perwira intelijen strategis yang kini memburu bayang-bayang masa lalunya, satu nama menjadi jawaban dari semua kematian. Seseorang yang pernah ia latih sendiri. Seseorang yang menjadi lebih kejam dari gurunya.
Di sela-sela laporan intelijen dan rekaman rahasia, Arya menemukan pola mengerikan: para korban Petrus bukan sekadar preman. Mereka adalah bagian dari jaringan yang lebih besar. Jaringan yang menghubungkan para jenderal, pengusaha minyak, dan seorang dalang di balik layar yang tak pernah muncul di koran.
Di tengah tembakan senyap dan saksi yang terus tutup mulut, sebuah suara mulai berbisik kental di kepalanya:
“Aku tidak perduli siapa yang memberi perintah pembunuhan massal itu. Aku hanya ingin mengejar hantu yang menginginkan nyawaku!”
Arya harus kembali ke dunia yang pernah ia tinggalkan. Menyusup ke markas intelijen, menghadapi wajah-wajah lama yang tak bisa ia percayai, dan bergerak lebih cepat dari tim pemburu bayangan yang dikirim untuk menghabisinya.
Di ujung perburuan, ada satu pertanyaan yang lebih mengerikan dari peluru:
Apa yang terjadi jika pembunuh massa—adalah orang yang paling dekat dengan kita?
Satu tembakan. Satu nama terakhir. Dan seluruh rekaman sejarah akan diretas.
Arya berlari bukan untuk mengungkap keadilan.
Bukan untuk membongkar konspirasi.
Dia berlari karena jika dia berhenti—dia akan menjadi nama berikutnya dalam daftar Petrus.







Ulasan
Belum ada ulasan.