Deskripsi
Mereka berperang demi mimpi. Namun mimpi itu telah mati. Yang tersisa hanyalah dendam yang tak pernah usai—dan satu nama yang harus dihabisi.
Tahun 1999. Aceh terbakar. Di tengah hutan belantara dan kepungan Daerah Operasi Militer, seorang agen intelijen bernama Raden Arya Wirawan menyusup ke barisan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Misi rahasianya dari Jakarta: memetakan struktur komando musuh dan melacak sumber senjata ilegal yang mengalir deras dari perairan Thailand. Namun ketika dua anggota GAM ditemukan tewas dengan luka tembak presisi di wilayah yang seharusnya steril—Arya menyadari bahwa ia bukan satu-satunya predator di hutan ini.
Di sisi lain konflik, Cut Tiara, seorang dokter muda dari Banda Aceh, menjalankan klinik kemanusiaan yang melayani korban perang dari kedua kubu. Di tengah malam, ia diam-diam mengirimkan informasi melalui radio untuk suaminya yang menjadi salah satu komandan GAM di pengasingan. Ketika ia menemukan pola kematian aneh yang menimpa para pejuang di kliniknya—tepat setelah mereka berbicara dengan seseorang dari tim medis—ia mulai curiga bahwa ada pengkhianat di antara mereka sendiri.
Kedua jalur ini bertemu di satu titik: rahasia yang menghubungkan Mobil Oil di Lhokseumawe dengan jaringan suplai senjata Libya yang dibangun Hasan di Tiro sejak 1970-an . Di balik perang ideologi dan cita-cita kemerdekaan, ada permainan yang lebih besar: siapa yang mengendalikan cadangan gas alam Aceh—dan berapa harga yang harus dibayar oleh dua juta jiwa di tanah rencong?
Arya harus memburu “hantu” yang membunuh dari dua sisi. Tiara harus memutuskan apakah kesetiaannya kepada suami lebih besar daripada nyawa puluhan orang yang ia selamatkan. Dan ketika Jakarta mengirim tim pembersih untuk menutup semua jejak, keduanya akan belajar satu kebenaran pahit: dalam perang yang kotor, yang selamat bukanlah pahlawan, melainkan mereka yang rela mengorbankan kemanusiaan mereka sendiri.






Ulasan
Belum ada ulasan.